Kalawai Pulau BiakPapua – Pada dasarnya semua manusia adalah baik. Hanya saja, nafsu berlebihan terkadang menutup niat yang baik. Itu pula yang pernah terjadi pada komunitas nelayan di sepanjang pesisir selatan Pulau Biak, Papua.

Pulau Biak dianugerahi pantai-pantai putih berpasir cantik di pesisir selatannya. Seluruh pasirnya selembut tepung terigu. Ada yang lebar dan cocok dibuat mandi-mandi seperti di pantai Desa Anggaduber. Ada yang cocok untuk bermain kayak seperti di pantai Desa Saba. Ada pula yang cocok untuk aktifitas snorkeling dan menyelam seperti di Desa Opiaref. Pantai terjauh di Tanjuang Barari mudah dijangkau dalam dua jam perjalanan dari Kota Biak dengan taksi (angkutan kota). Jadi, tak layak kalau dibilang pantai-pantai ini terisolasi.

Selain itu perairan di sekitar pantai pun tenang dan minim ombak. Kemudahan itu pula yang mungkin membuat pantai-pantai ini kerap dikunjungi nelayan dari luar Pulau Biak. Celakanya, nelayan-nelayan ini pernah memperkenalkan teknik penangkapan tak berkelanjutan: menggunakan bom dan sianida.

“Tahun 70-an mereka tidak kenal bom atau sianida. Mereka hanya kenal kalawai (tombak bermata logam tajam) untuk tangkap ikan,” kata Bapak Erikson Farwas, dive master senior di Pulau Biak yang memandu Tim Unyu Penyu Papua 1 menyelam di pesisir selatan Pulau Biak, tanggal 13 Oktober 2010.

Menurut Bapak yang sudah tigapuluh tahun perduli dengan komunitas bahari Pulau Biak dan sekitarnya ini, nelayan di pesisir selatan Pulau Biak mulai ikut-ikutan menangkap ikan menggunakan bom dan sianida sejak awal tahun 80-an. Terumbu karang di sekitar pantai ini pernah rusak parah. Jejak kerusakannya masih terlihat ketika kami menyelam hari itu.

“Untunglah kontur bawah laut sekitar Biak beruba wall dan drop off kurang menguntungkan untuk bom dan sianida. Karena hasilnya kurang. ikan di karang dangkal jumlahnya sedikit dan ikan di sekitar wall/dropoff hanyut ke tengah laut jika di-bom. Akhirnya mereka kembali menggunakan jaring atau kalawai. Sejalan dengan kerjasama usaha konservasi mereka dengan COREMAP,” kisah Pak Erik.

Masyarakat desa-desa di Biak Timur (Bosnik, Soryar, Opiaref, Marau, Bosnik, Saba, Wadibu, Anggaduer dan Menurwar) kini sudah sadar dan aktif berperan dalam kegiatan konservasi dengan COREMAP. COREMAP memperkenalkan jaring yang lebih aman untuk terumbu karang. Selain itu, sebagian besar nelayan kembali menggunakan kalawai, seperti dipakai nenek moyang mereka.

Hasil menggunakan kalawai ternyata tidak sedikit. Minimal bisa untuk keluarga sendiri dan sebagian dijual. Jadi, memang perlu kearifan untuk menimbang mana yang didahulukan: perut atau nafsu. Dan nelayan di pesisir selatan Pulau Biak dengan arif menuruti kata hati, mengikuti jejak nenek moyang mereka agar alam terus memberikan yang terbaik untuk keluarga mereka.
Nampaknya kita perlu belajar banyak dari para nelayan ini.

Sumber:detiktravel