Sumatera Selatan – Sudah puas mencicipi pempek khas Palembang? Saatnya anda menikmati pesona alam yang ditawarkan bumi selatan Sumatera!

Pagar Alam

Setelah berwisata sungai, berwisata sejarah, dan berwisata budaya di pusat kota Palembang, saya dan Rainer Oktovianus berangkat menuju alam raya Sumatera Selatan. Cuaca panas sekali pada hari Rabu, 7 Oktober 2010, tetapi semuanya terbayar sudah ketika kami sampai di Pagaralam ketika senja mulai menampakkan warnanya.

Deretan pepohonan dan tanaman memenuhi kanan kiri jalan, hijau menyeruak di sepanjang sisinya. Perlahan, udara segar menyergap masuk ketika kami membuka kaca jendela mobil. Rasanya sungguh menyejukkan ketika menghirup oksigen segar dari daerah berbukit ini. Mata kami pun dimanjakan dengan hamparan langit yang dihiasi awan putih, tak lupa ditambah panorama Gunung Dempo, Pegunungan Bukit Barisan, perkebunan teh, dan juga rumah-rumah penduduk yang masih terbuat dari kayu (Rumah Limas). Siapa yang tak betah tinggal di kaki gunung tertinggi Sumatera Selatan ini? Kebanyakan perantauan dari Pulau Jawa yang menetap di daerah ini pun ternyata memang mencari kehidupan yang tenang dan bersahaja.

Pagaralam dapat ditempuh sekitar tujuh jam perjalanan dari pusat kota Palembang dengan menggunakan kendaraan bermotor, letaknya di sebelah barat Kabupaten Lahat. Jika anda termasuk orang yang mabuk darat, minumlah obat anti mabuk karena jalannya cukup berkelok-kelok. Sebagai bayangan, daerah ini mirip dengan kawasan Puncak (Jawa Barat) namun dengan kondisi yang jauh lebih alami, tidak ada pertokoan atau rumah makan di sepanjang kanan kiri jalan.

Ada 3 alternatif vila yang bisa anda tempati jika ingin menginap selama beberapa hari di Pagaralam. Ada Vila Gunung Dempo, Vila Gunung Gare, dan Vila Besemah. Saya dan rekan akhirnya memilih vila terakhir karena selain kedua vila pertama sudah penuh, harga penginapan di Vila Besemah juga ternyata sangat bersahabat dengan kantong, Rp 100.000,-/kamar per-malam. Satu rumah terdiri dari dua kamar dan masing-masing kamar memiliki dua tempat tidur. Namun, jika anda pergi berombongan sekitar lima sampai sepuluh orang, hendaknya memilih sebuah rumah yang agak lebih besar dengan harga Rp 500.000,- malam, cukup hemat kan?

Vila yang kami tempati berkonsep rumah panggung beratap dan beralaskan kayu, sirkulasi udaranya tak usah diragukan. Di belakang rumah, hamparan perkebunan teh dan beberapa pohon yang menjadi aksesoris menyambut kami dengan oksigen alaminya, sebuah kondisi yang sangat jarang bisa ditemukan di perkotaan. Pemandangan dari depan vila pun tak mau kalah ikut menyuguhkan alam raya bersahaja Pagaralam. Siap-siap juga dengan bentangan karpet alami raksasa berwarna hijau serta tingginya Gunung Dempo yang akan memanjakan mata anda. Udaranya belum tercemar oleh polusi, airnya pun murni dari tanah. Paru-paru anda dijamin sehat sekali selama di sini!

Satu lagi yang menjadi nilai tambah kawasan Pagaralam ini adalah kebersihannya. Tak ada sampah yang berserakan di jalan, bahkan yang sekecil apapun. Warga dan penduduknya benar-benar mengaplikasikan moto kawasan mereka “Besemah”, Bersih, Sejuk, dan Ramah. Rasanya kurang sekali jika hanya menginap di Pagaralam sekitar dua hari. Suasana alam raya dan keramahan penduduknya membuat kami betah dan ingin tinggal lebih lama.

Di Pagaralam, kami menemukan sebuah kesederhanaan hidup. Ketika semua dimulai dari nol, ketika manusia tak lagi serakah dan sudah menelanjangi egonya, ketika alam menjadi pusat kehidupan, dan ketika semuanya kembali bermuara kepada-Nya.

Sumber: detiktravel