Papua – Layaknya cerita dari khayangan, Desa Anggaduber, Kecamatan Biak Timur menyimpan cerita unik di balik kulit indahnya. Berjalan santai di satu-satunya jalan beraspal di Desa Anggaduber sungguh menyenangkan. Di sebelah kiri, rumah-rumah penduduk berjejer rapi. Beberapa tak berpagar, khas masyarakat pantai yang terbuka dengan pendatang.

Desa Anggaduber

Di sebelah kanan, laut lepas membentang membatas cakrawala. Pulau-pulau karang kecil memagari pantai Desa Anggaduber dari ombak yang dibawa Samudra Pasifik. Pohon kelapa melambai seirama angin laut: tidak keras tapi cukup untuk menidurkan badan dalam ‘rumgun’ (rumah panggung khas Biak) setelah dua jam menyusur jalan sejauh tigapuluh lima kilometer utara Kota Biak.

Hidup terasa indah di desa ini. Sampai ketika harus berurusan dengan air bersih. Kak Boi, teman baru kami, sempat bilang kalau air tawar itu barang mahal di sebagian besar Pulau Biak. Di Desa Anggaduber pun sama. Tapi hanya untuk mereka yang tidak mau usaha. Pasalnya, di beberapa titik di sepanjang Pantai Anggaduber, Tuhan berbaik hati mengeluarkan air tawar dari sela-sela bebatuan karang. Konon, ‘duber’ dalam nama Desa Anggaduber berarti ‘air tawar yang keluar dari batu karang ketika air laut surut’.

Ketika air laut pasang, air duber jadi asin. Saat surut, air duber mengalir lancar, membasuh dahaga penduduk salah satu desa terluar Indonesia itu. Sayangnya, kini pasang surut air laut sering tidak bisa diprediksi. Jadilah penduduk Desa Anggaduber harus bersiap kapan saja untuk bisa ‘menangkap’ air tawar.

Bukan pekerjaan yang mudah. Tapi di situah letak keunikan desa ini: penduduknya sangat menghargai air bersih. Lokasi mengambil air untuk masak-minum dipisahkan dari lokasi untuk mencuci piring, apalagi lokasi mandi. Sebuah kearifan lokal yang makin sulit ditemui.

Keterbatasan air bukan berarti kesusahan. Sore di pertengahan Oktober itu, Tim Unyu-Penyu ngobrol dengan beberapa ibu yang sedang mencuci piring. Mereka nampak senang saja. Sebagian karena sudah biasa dengan ‘dapur alami’ mereka. Sebagian karena tahu, banyak saudara mereka di bagian lain Pulau Biak yang tidak seberuntung mereka. Apalagi dibandingkan saya yang tinggal di Pulau Jawa.

Jadi, sudahkah kita bersyukur atas air yang keluar dari keran rumah kita hari ini?

Sumber: detiktravel