Papua – Waktu hampir pukul tujuh pagi waktu setempat ketika saya bangun tidur. Ini merupakan hari kedua saya, Erwin dan bang Leo di Merauke, Papua. Hari ini, Rabu, 13 Oktober 2010, kami akan berpetualang menuju Taman Nasoional Wasur. Salah satu dari taman nasional yang ada di propinsi Papua. Rencananya pagi ini kami akan berangkat pukul delapan atau sembilan pagi.

taman nasional wasur

Di lobi Hotel Nirmala, bang Syarif – supir Taksi Bandara Mopah – yang sehari sebelumnya mengantar kami dari bandara ke hotel sudah menunggu sesuai dengan janjinya. Lelaki kelahiran Ambon inilah yang akan mengantar kami memasuki Taman Nasional Wasur. Sambil berjalan keluar menuju taksinya, bang Syarif bercerita tentang salah satu kekhasan Taman Nasional Wasur (TNW). ‘Nanti disana kita bisa lihat rumah rayap yang tingginya bisa sampai lima meter,’ kata bang Syarif dengan senyumnya yang khas.

Cuaca Kota Merauke nampaknya sangat cerah. Jalan Raya Mandala pagi itu nampak sedikit ramai. Inilah salah satu jalan raya yang menjadi jalan utama Kota Merauke. Sekitar 10 menit perjalanan dengan kendaraan, kami melalui tugu Kota Merauke. Tugu ini berbentuk persegi empat pada bagian bawah bergambar alam dan ukiran khas Merauke. Pada bagian atasnya berbentuk lingkarang dengan tulisan ‘Izakod Bekai Izakod Kai’ – Satu Hati Satu Tujuan dan Merauke memagarinya. Lingkaran ini di atasnya terdapat sebuah bola bertulsikan ‘Maroka Ehe’ dan gambar Kabupaten Merauke. Di bola tersebut terdapat patung dua orang lelaki Suku Marind – suku asli Merauke – dan patung orang asing. Ketiga patung tersebut nampak sedang menugusung sebuah benda berbentuk seperti gasing.

Pesona Wasur Hingga Perbatasan RI-PNG

Dari tugu Kota Merauke, perjalanan menuju Taman Nasional Wasur masih membutuhkan waktu sekitar satu jam setengah ke arah Timur-Selatan. Sepanjang perjalanan kami melintasi beberapa perkampungan. Sejauh mata memandang merupakan dataran yang sangat luas. Benar-benar daerah yang cocok untuk sebuah kota. Di dalam kawasan bandara Mopah, kami sempat mampir sebentar ke kantor MAF (Mission Aviation Fellowship) – sebuah organisasi internasional yang membantu transportasi ke daerah-daerah terpencil di Papua – untuk cek pesawat. Rencananya kami akan menggunakan pesawat MAF untuk menuju Asmat pada hari berikutnya.

Setelah dari MAF, kami mampir di terminal angkutan ‘Highland’. Namun, jenis angkutan yang utama disini adalah mobil offroad. Mobil-mobil ini merupakan angkutan khusus menuju Muting, Boven Digul, Asiki, Tanah Merah dan sekitarnya. Di Highland juga terdapat ankutan kota Merauke. Berbeda dengan di Jakarta, angkutan kota kalau di Merauke di sebut Taksi.

Begitu mendekati TNW, di kanan kiri jalan tampak pemukiman transmigrasi. Namun, disini tidak ada sawah. Rumah-rumahnya rata-rata dibangun dari kayu atau papan. Beberapa rumah mempunyai halaman yang luas. Menurut bang Syarif, ada pemukian orang-orang Jawa juga disekitar sini.

Masuk gerbang kawasan TNW, ada plakat hitam bertuliskan ‘Selamat datang di Taman Nasional Wasur’ dan sebuah patung sejenis Kangguru sedang memukul tifa – alat musik tradisional Papua. Gerbang masuk TNW hanyalah berupa dua bangunan dari papan berbentuk kerucut setinggi kurang lebih 6-7 meter. Persis di sisi kanan jalan ada bangunan kayu yang sangat unik. Bangunan cantik ini merupakan kantor Balai Konservasi dan Penelitian Bomi Sai. Di di dinding bangunan ini ada tulisan besar ‘Bomi Sai dan Taman Nasional Wasur’ serta gambar Kangguru. Jembatan kayu yang menghubungkan jalan Trans Merauke-Papua dengan balai menambah menambah keunikannya.

Di dalam balai kami disambut oleh petugas taman nasional, bapak Amir. Beliu menjelaskan kepada kami tentang fungsi dari Taman Nasional Wasur. Disini kami dapat melihat foto-foto dan berbagai informasi mengenai keunikan dan kekhasan dari TNW. Mulai dari Kangguru, Rumah Semut, Istana Rayap dan lain-lain.

Taman Nasional Wasur sendiri merupakan kawasan pelestarian alam yang sebagian daratannya adalah lahan basah. Kawasan ini memiliki luas 413.810 ha. Ditetapkan oleh pemerintah berdasarkan SK Menhut No. 282/Kpts-VI/1997 tanggal 23 Mei 1997.

Salah satu hal yang sangat menarik di kawasan ini adalah Istana atau Rumah Rayap. Yaitu bangunan berbentuk kerucut seperti Candi Prambanan. Bangunan ini oleh masyarakat Papua disebut Mosamus. Tinggi bangunannya bisa mencapai lebih dari 5 meter. Bangunan ini dibentuk oleh rayap dari tanah dan rerumputan. Menurut pak Amir, bangunannya sangat keras dan dapat membuat kendadaraan penyok jika menabraknya. ‘Rumput yang menjadi campuran bangunan Istana Rayap menjadi semacam rangka, sehingga bangunan menjadi sangat keras’, kata pak Amir menjelaskannya.

‘Bahkan mobil saja bisa penyok jika menabraknya,’ lanjutnya lagi.

Kemudian kami melihat beberapa ekor hewan berkantung jenis Kangguru dan burung Kasuari yang ada di bagian belakang balai. Sungguh menakjubkan melihat hewan asli Papua ini berada di alam aslinya. Menurut Pak Amir, hampir semua hewan mamalia yang ada di TNW memiliki kantung, Termasuk hewan sejenis tikus.

Taman Nasional Wasur ternyata juga menjadi tempat burung-burung bermigrasi dari benua Australia ke Eropa. Saat bermigrasi biasanya burung-burung tersebut singgah dulu di di dalam kawasan taman nasional.

Dari balai TNW, kami kemudian kembali melajutkan perjalanan semakin ke dalam menyusuri jalan raya Trans-Papua yang membelahnya. Sepanjang perjalanan di kanan dan kiri jalan di dominasi oleh rawa-rawa serta beberapa jenis tumbuhan. Pohon jenis kayu putih dapat dengan mudah kita jumpai disini.

Salah satu tempat yang menarik dan kerap dikunjungi oleh masyarakat yang terdapat di kawasan taman nasional adalah Rawa Biras. Tempat ini bagaikan oase yang menyejukkan tatkala cuaca sedang panas. Airnya terlihat jernih di antara jalan raya Trans-Papua dan kerimbunan hutan. Untuk memberi kenyamanan para pengunjung, disini sengaja dibangun pondok-pondok dari kayu yang menjorok ke tengah-tenah rawa. Jika anda datang pada saat senja, anda akan merasakan suasana yang romantisme. Jelang matahari terbenam begitu memesona.

Hal menarik lainnya yang dapat kita nikmati adalah Mosamus – istana atau rumah rayap. Bangunan berbentuk lancip seperti dapat dengan mudah kita jumpai di kanan dan kiri jalan. Kami sempat berhenti dan berjalan masuk sedikit ke dalam kawasan di kiri jalan. Di dalam kami menjumpai sebuah Mosamus dengan ketinggian hampir mencapai lima meter. Benar-benar sungguh menakjubkan, binatang rayap dapat membuat bangunan yang besar, kokoh, kuat dan indah. Menurut informasi yang saya peroleh jika Mosamus berwarna merah atau kekuningan artinya masih dihuni oleh hewan-hewan sejenis rayap tersebut. Sedangkan sebaliknya jika berwarna putih artinya telah kosong.

Perjalanan kami selanjutnya berhenti di Tugu Kembar Sabang-Merauke yang berada di Distrik Sota. Tugu ini hanya ada dua di Indonesia. Di tugu ini terdapat peta kawsan NKRI dan Burung Garuda di atasnya. Kembarannya berada di daerah Sabang, Nangroe Aceh Darussalam. Disekitar tugu ini terdapat warung-warung makan. Biasanya kendaraan dari Merauke – Boven Digul, Tugu Perbatasan RI-Papua New Guinea (PNG) dan sekitarnya atau sebaliknya mampir disini. Di sana kami sempat melihat mobil jenis offroad yang penuh lumpur dari arah Boven Digul. Sota sendiri merupakan daerah perbatasan RI-PNG.

Dari Tugu Kembar Sabang-Merauke, perjalanan kami lanjutkan kembali menuju Tugu Perbatasan RI-PNG. Perjalanan ini hanya membutuhkan waktu sekitar 10 menit dengan mobil. Setelah melewati Polsek Sota, kami berhenti sesaat di Post Border RI-PNG untuk melaporkan tujuan kami. Memasuki kawasan tugu perbatasan sangat terasa sekali suasana nasionalismenya. Di kanan dan kiri jalan penuah dengan warna merah putih. Beberapa meter dari pos border, kami melintasi gerbang masuk kawasan tugu. Gerbang ini di atasnya terdapat dua tulisan yang berbeda pada kedua sisinya. Di satu sisi bertuliskan “Goodbaye and See you Again Another Day” dan “Izakod Bekai Izakod Kai”. Sedangkan sebaliknya terdapat tulisan “Welcome to Republic Indpnesia” dan “Izakod Bekai Izakod Kai”. Di atasnya lagi terdapat lambang Burung Garuda.

Kawasan Tugu Perbatasan RI-PNG nampak terawat layaknya sebuah taman yang sederhana. Selain bunga-bungan dan tanaman sayur-sayuran disini juga terdapat Honai – bangunan seperti pondok tempat untuk bersantai. Juga terdapat beberapa tulisan yang bernuansakan partriotisme. Contohnya ‘Kami Cinta Negeri Ini’ dan ‘Baktiku Padamu Negeri’. Sebuah tiang bendera yang tingginya sekitar 10 meter dengan bendera kecil di atasnya berada persisi di tengah-tengah taman.

Saat kami memasuk taman, seorang pria berapakaian polisi berusia sekitar 40 tahun sedang menyapu. Beliau adalah Pak Ma’ruf Suroto. Pria kelahiran Nabire keturunan Jawa inilah yang merawat kawasan Tugu Perbatasan RI-PNG ini sejak tahun 2004. Beliau banyak bercerita kepada kami bagaimana dulunya kawasan disekitar tugu perbatasan ini yang penuh semak belukar dan tidak terawat. Atas inisiatifnya sendiri walaupun tidak mendapatkan bayaran lebih, beliau merapihkannya sedikit demi sedikit. Jiwanya terpanggil untuk melakukan itu semua. Kini kawasan ini setiap akhir pekan selalu ramai dikunjungi oleh masyarakat.

Tugu Perbatasan RI-PNG sendiri berbentuk empat persegi panjang dengan sedikit mengerucut ke atas setinggi sekitar 1,5 meter. Pada tiga sisinya terdapat tulisan berupa ‘Team Survey Indon’ – Aust Survey Team dan disisi lainnya berupa angka-angka koordinat yang menunjukkan posisi tugu. Karena kawasan ini masih masuk Taman Nasional Wasur, tidak jauh dari tugu terdpat sebuah Mosamus. Berjalan beberapa meter ke depan dari tugu, kami seolah-olah telah berada di luar negeri, PNG. Jadi, jika anda berkunjung ke Merauke jangan pernah lewatkan untuk menyusuri Taman Nasional Wasur hingga ke Tugu Perbatasan RI-PNG.

Sumber: detiktravel