Dieng Plateau

Jawa Tengah – Sudah tiga hari ini kami meluncur dari Wonosobo ke Dataran Tinggi Dieng Plateau. Selama perjalanan menuju Diang Plateau, kami melewati jalanan yang berkelok, dengan suasana yang berbeda beda. Walau begitu tetap saja tidak mengurangi keindahan pemandangan di kanan kiri jalan menuju Dieng.

Perjalanan kami ke Dieng dimulai pada jum’at siang yang mendung setelah menikmati keheningan telaga menjer. Dari Telaga Menjer kami menyusuri jalanan melalui Tambi yang berupa perbukitan. Menanjak, berkelok dan menurun seperti liku kehidupan manusia yang berjalan berirama. Dalam perjalanan kami disuguhi pemandangan hijau berupa perkebunan teh yang cukup luas pada ketinggian 1.350 meter Diatas Permukaan Laut tepatnya di daerah Tambi yang terkenal Sebagai objek Agrowisata yang dikelola oleh pihak swasta yang juga merupakan produsen teh.

Setelah Perkebunan Teh Tambi, kami juga masih disuguhi pemandangan Agro selama perjalanan menuju ketinggian 2.093 meter Diatas Permukaan Laut. Kali ini pemandangan yang dsuguhkan di kanan dan kiri lereng perbukitan yang kami lalui adalah hamparan pertanian sayuran, disana kami mendapati tanaman kentang, kol, cabai dan tomat. Hari pertama kami menjelajah Dieng Plateau diiringi dengan awan yang gelap dan sempat gumpalan-gumpalan awan itu jatuh sebagai butiran-butiran air. Di beberapa ruas jalan kabut turun sehingga kami harus berhati-hati, karena keterbatasan jarak pandang.

Hari pertama kami menginjakkan kaki di Dieng Plateau, kami disambut dengan udara yang dingin, benar benar ekstrim mengingat saya biasa berada ditempat yang panas yang bahkan karena terlalu panasnya hingga mampu mengalirkan keringan sekalipun tidak beraktivitas. Penjelajahan pertama di Dieng Plateau adalah Telaga warna yang mampu menampilkan beberapa warna hijau dan kuning, biru dan kuning atau beraneka warna seperti pelangi, tergantung pada cuaca dan tempat kita melihat. Ketika kami berkunjung, kami disuguhi warna telaga yang hijau dan tenang ditambah lagi udara dingin yang berhembus.

Kami berjalan menyusuri telaga dan menjumpai telaga lain yang letaknya berdekatan dan berukuran lebih kecil, Telaga Pengilon namanya. Kemudian kami memasukihutan buatan yang didalamnya terfapat Goa sumur, Goa Semar, Dan Goa Batu. Perjalanan kami berlanjut ke Gunung Sikunir, di Gunung Sikunir ini banyak wisatawan local maupun wisatawan asing yang melihat keindahan matahari terbit. Tapi untuk mendapatkan momen tersebut tidaklah mudah. Karena dataran tinggi ini selalu saja diliputi kabut. Seperti ketika kami kesana kondisinya hujan dan berkabut tebal. Hari ke dua kami menjelajah dieng adalah mengunjungi kawah.

Cuacanya juga mendung dan dingin seolah menjadi teman perjalanan kami. Minggu 10 Oktober 2010 Matahari pagi itu tersenyum ceria menyinari seluruh sudut kota Wonosobo. Tampaknya Hari yang baik, sebelum kembali ke Dieng Plateau yang dingin untuk menjelajah Objek Wisata yang belum sempat kami kunjungi, kami menyempatkan diri untuk sejenak merelaksasi diri dengan berendam di Pemandian Kalianget yang letaknya tidak jauh dari tempat kami menginap. Kami mengunjungi Telaga Dringgo yang letaknyalebih keatas lagi dari Kawah Candradimuka dengan menyewa ojek Rp 20.000,- untuk 1 motor pergi dan pulang.

Sumber: detiktravel