desa bawomataluo

Sumatera Utara – Desa tradisional di Pulau Nias sangat banyak dan tersebar hampir di seluruh Pulau, pada Kamis (7/10) tim ACI Sumatra Utara 2 mendapat kesempatan mengunjungi desa-desa yang sudah berumur ratusan tahun di wilayah Nias Selatan. Perjalanan ang cukup jauh karena harus masuk ke pelosok daerah Nias tidak menghalangi niat kami untuk mengunjungi dan memberitahukan kepada Indonesia.

Untuk perjalanan kali ini kami dtemani oleh Bapak Triswan Neae, seorang warga asli Nias yang akan menuntun kami masuk kedesa-desa tradisional Nias. Tujuan pertama kami adalah desa Bawomataluo, desa dengan total 260 kepala keluarga ini adalah salah satu desa yang paling sering dikunjungi oleh wisatawan, jurnalis, atau peneliti. Ditempat ini juga masih berdiri dengan kokoh rumah Omo Nifolasara, rumah yang hampir setinggi 20 meter ini masih berdiri kokoh di desa Bawomataluo. Semua bahan terbuat dari kayu dan tidak ada yang dipaku, kami sempat memasuki rumah bersejarah warisan dunia, dan memang benar kami harus masuk dari bawah dan kemudian menuju tangga menuju atas rumah. Ditempat ini sudah dihuni oleh 7 keturunan raja dan sampai saat ini tradisi tersebut masih berlangsung. Kemudian kami melihat tradisi lompat batu yang sudah dikenal di dunia, sempat takjub dan bangga karena Indonesia memiliki nilai budaya yang masih dilaksanakan di desa ini. Karena perjalanan kami cukup banyak, jadi tim memutuskan untuk melanjutkan perjalanan di desa berikutnya.

Hiliameta adalah desa tujuan kami selanjutnya. Sebenarnya bentuk fisik hampir sama dengan dengan Bawomataluo, perkampungan yang memanjang sampai ujung. Di tempat ini juga terdapat tradisi lompat batu sama seperti di desa sebelumnya, dan itu sudah rata-rata menjadi tradisi di hampir setiap desa di Pulau Nias. Ketika kami datang di desa Hiliameta sedang ada acara rembuk desa, karena pada hari itu salah satu warga desa ada yang meninggal dunia jadi diadakan rembuk dibalai desa. Karena suasana yang ramai dan penting, tim memutuskan untuk melanjutkan perjalanan karena takut mengganggu jalannya tradisi serta biasanya untuk mempersiapkan ini butuh waktu yang lumayan panjang.

Selanjutnya ke desa Hilisimaetana, akses ke daerah ini lumayan jauh karena terdapat di pedalaman tapi akhirnya kami sampai juga di desa tersebut. Hilisimaetana terdiri dari 11 desa dan jika berjalan dari desa pertama sangat jauh dan panjang. Butuh waktu setengah hari untuk berjalan sampai desa terakhir, jadi tim hanya berjalan disekitaran desa pertama. Rata-rata penduduk di desa ini memproduksi karet, beras, dan coklat sebagai mata pencahariannya. Hampir disetiap rumah terdapat bentangan hasil kebun warga dijemur dan dikeringkan, ada yang sebagian dijual dan ada yang sebagian digunakan untuk kepentingan pribadi. Yang terakhir, kami berkunjung ke desa Botohili. Desa ini sangat dekat dengan Pantai Sorake, secara fisik semua desa (termasuk desa Botohili) yang kami kunjungi mempunyai struktur yang sama, tangga menuju desa, bentuk desa yang memanjang, rumah yang saling berhadapan, jalan utama berada ditengah. Cukup unik dan banyak belajar dari desa tradisional di Pulau Nias Selatan ini, saat ini tugas kita adalah tetap menjaga dan merawat salah satu warisan Indonesia bahkan dunia.

Sumber: detiktravel