Pulau Manem di Teluk Geelvink, Provinsi Papua di kelilingi oleh gugusan terumbu karang yang indah sekali sehingga cocok untuk dijadikan sebagai daerah tujuan wisata snorkeling dan scuba diving.

Beberapa waktu yang lalu aku dan dua orang wisatawan asal Finlandia, Marko dan Rita, menikmati pemandangan bawah laut di Pulau Manem. Untuk mencapai pulau tersebut, kami harus terbang dengan pesawat kecil milik Susi Air selama 20 menit dari kota Manokwari ke Pulau Numfor dan selanjutnya dengan perahu motor selama 1 jam ke Pulau Manem.

Cuaca sangat tidak bersahabat saat kami bertolak dari Laguna Amberimasi (yang juga merupakan lokasi wisata alam yang menarik). Angin selatan bertiup kencang sehingga ombak memecah di haluan perahu dan membasahi sekujur tubuh kami semua. Nelayan yang mengemudikan perahu nampak kuatir dimarahi turis-turis Finlandia tersebut karena baju mereka basah semua. Ternyata bule-bule itu tertawa saja. Mereka malah meminta agar laju perahu ditambah lagi supaya kami bisa sampai di tempat tujuan lebih awal.

Ini belum apa-apa. Setelah 30 menit berlalu, ternyata motor tempelnya mogok di tengah laut beberapa kali. Arus laut mulai menyeret kami keluar jalur yang kami tuju. Setelah posisi selang bahan bakar diatur ulang beberapa kali, kap mesin dibuka dan motor tempel itu diutak-atik oleh sang nelayan, perahu kami akhirnya bisa melaju lagi menuju Pulau Manem.

Pulau Manem adalah sebuah pulau kecil yang terletak di sebelah barat daya Pulau Numfor. Pulau Manem tidak berpenghuni sehingga terumbu karang yang tumbuh di sekitarnya masih dalam kondisi baik.

Setelah perahu merapat ke pantai, tanpa menunggu lama, aku dan turis-turis Finlandia itu segera mengenakan peralatan snorkeling dan melompat ke dalam laut.

“Wuiih… indah sekali gugusan karang dan ikan-ikannya,” kataku dalam hati. Kalau aku mengatakan itu sambil bersuara nyaring, tentu saja air laut akan masuk ke mulutku. Selama snorkeling di Pulau Manem aku bisa melihat butterfly fish, anemone fish, striped surgeon fish, urchin dan sea star serta masih banyak lagi jenis mahluk laut yang tak bisa aku sebutkan satu per satu di dalam artikel ini. Pokoknya, dunia bawah laut di Pulau Manem luar biasa indahnya. Aku bahkan berkhayal menginap beberapa malam seorang diri di pulau ini. Sayang sekali, nelayan setempat tidak memperbolehkan hal tersebut dengan alasan bahwa pulau ini angker.

Empat jam kami berada di antara terumbu karang Pulau Manem. Deburan ombak dan kicauan burung adalah nyanyian alam yang terdengar merdu di telingaku. Suasana pulau tropis yang sepi menenangkan hatiku.

Padahal sependek pengetahuanku, sesuai dengan apa yang  pernah kubaca tentang sejarah Perang Pasifik, pada tahun 1944 Pulau Numfor dan Manem pernah menjadi daerah pertempuran yang dahsyat antara tentara sekutu dan pasukan Jepang. Buktinya memang masih ada. Sejumlah benda-benda peninggalan Perang Dunia ke-2 seperti senapan mesin, bom (yang telah dikeluarkan mesiunya, dan helm tentara di Pulau Numfor bisa dilihat di sebuah museum kecil milik Bpk. Simon Wanma (kepala suku).

Sore pun tiba dan kami segera kembali ke Pulau Numfor lagi. Kali ini ombak mendorong kami dari buritan sehingga perahu bisa tiba lebih cepat.

Selain menikmati snorkeling di Pulau Manem, kami melakukan pengamatan burung (birdwatching), dan menonton pertunjukan tarian tradisional di Pulau Numfor. Sejumlah species burung yang berhasil kulihat di sana adalah berbagai jenis kingfisher, parrot, fruit dove and fishtail drongo, serta dollar bird.

Seminggu lamanya aku dan para wisatawan Finlandia jalan-jalan di Pulau Numfor. Aku sungguh senang bisa berlibur di Pulau Numfor dan Manem. Sebenarnya aku ingin lebih lama lagi berada di sana. Namun itinerary yang telah kususun buat para wisatawan Finlandia itu masih panjang. Kami masih harus kembali ke Manokwari untuk melanjutkan petualangan hiking dan birdwatching di Pegunungan Arfak serta snorkeling di Arfai. oleh Charles Roring

Sumber : Detik Travel