Category: Papua


Gugusan terumbu karang di sekitar perairan Arfai merupakan dunia bawah laut yang kaya dengan berbagai spesies ikan koral sehingga patut dikunjungi oleh siapa saja yang ingin melihatnya. Belum lama ini, aku menemani dua orang turis Rusia, Alex dan Vitali, untuk menikmati snorkeling di sana.

Setelah menjelajahi gua alam yang penuh kelelawar di Gunung Meja, selanjutnya aku mengantar dua orang turis Rusia, Alex dan Vitali, ke Pantai Arfai guna menjelajahi taman laut Arfai yang dipenuhi terumbu karang yang berwarna-warni. Kami berangkat sekitar jam 3 sore menuju pantai itu. Dari kota Manokwari, waktu yang diperlukan untuk mencapai pantai itu adalah kurang lebih 30 menit. Rumah-rumah berjejer di sepanjang kawasan pantai dan perbukitan di Teluk Dorey. Kota Manokwari dikepung oleh gugusan Pegunungan Arfak di sebelah selatan dan Gunung Meja di sebelah utara. Ada dua pulau kecil di tengah-tengah Teluk Dorey. Namanya Mansinam dan Lemon. Pulau-pulau tersebut melindungi perairan Teluk Dorey dari terpaan angin kencang dan hempasan dahsyat ombak-ombak lautan Pasifik antara bulan November hingga Maret. Teluk Dorey sejak dahulu kala menjadi tempat perlindungan yang ideal bagi para nelayan dan kapal-kapal dagang.

Tiga buah Ojek (sepeda motor taksi) yang mengantar kami akhirnya tiba di tempat yang telah aku sebutkan. Harga yang kami bayar adalah Rp. 15.000 per orang. Di Papua, harga ini tergolong wajar. Karena aku telah menghubungi Pak Kosal – nelayan setempat – untuk mengantar kami dengan perahunya, maka ketika kami tiba, ia telah menyiapkan perahu motornya. Terumbu karang tempat kami akan menikmati snorkeling terletak agak terpisah dari pantai Arfai. Jaraknya sekitar 300 meter. Setelah kami semua telah berada di dalam perahu, Pak Kosal mulai menghidupkan motor tempelnya dan mulai mengemudikan perahunya meninggalkan pantai. Perahu berbelok ke arah tenggara dan mulai melaju melewati Pulau Raimuti. Nampak jelas bahwa pulau  itu terancam tenggelam karena mengalami abrasi selama bertahun-tahun. Tidak sampai sepuluh menit perahu melaju akhirnya kami tiba di tempat tujuan.

Kala itu cuacanya baik dan permukaan air laut cukup tenang. Setelah perahu berhenti, Alex dan aku segera melompat ke laut. Ketika melihat gugusan terumbu karang dan berbagai jenis ikan koral yang mendiaminya, Alex mengatakan bahwa terumbu karang Arfai sungguh indah. Begitu pula denganku yang telah beberapa kali snorkeling di tempat ini, tetap saja aku kagum dengan pemandangan bawah laut perairan Arfai. Dengan kamera Canon Powershot D10nya, Alex sibuk memotret koral dan satwa air yang hidup di dalamnya seperti scorpion fish, christmas tree worm, dan urchin. Matahari mulai terbenam di ufuk barat ketika kami bergerak perlahan-lahan meninggalkan terumbu karang Arfai.

Keesokan harinya setelah membeli suvenir dari seorang seniman Papua, Alex dan Vitali akhirnya berangkat menuju Jakarta untuk selanjutnya terbang kembali ke Rusia.

Oleh Charles Roring

Sumber: Detik Travel

Iklan

Pulau Manem di Teluk Geelvink, Provinsi Papua di kelilingi oleh gugusan terumbu karang yang indah sekali sehingga cocok untuk dijadikan sebagai daerah tujuan wisata snorkeling dan scuba diving.

Beberapa waktu yang lalu aku dan dua orang wisatawan asal Finlandia, Marko dan Rita, menikmati pemandangan bawah laut di Pulau Manem. Untuk mencapai pulau tersebut, kami harus terbang dengan pesawat kecil milik Susi Air selama 20 menit dari kota Manokwari ke Pulau Numfor dan selanjutnya dengan perahu motor selama 1 jam ke Pulau Manem.

Cuaca sangat tidak bersahabat saat kami bertolak dari Laguna Amberimasi (yang juga merupakan lokasi wisata alam yang menarik). Angin selatan bertiup kencang sehingga ombak memecah di haluan perahu dan membasahi sekujur tubuh kami semua. Nelayan yang mengemudikan perahu nampak kuatir dimarahi turis-turis Finlandia tersebut karena baju mereka basah semua. Ternyata bule-bule itu tertawa saja. Mereka malah meminta agar laju perahu ditambah lagi supaya kami bisa sampai di tempat tujuan lebih awal.

Ini belum apa-apa. Setelah 30 menit berlalu, ternyata motor tempelnya mogok di tengah laut beberapa kali. Arus laut mulai menyeret kami keluar jalur yang kami tuju. Setelah posisi selang bahan bakar diatur ulang beberapa kali, kap mesin dibuka dan motor tempel itu diutak-atik oleh sang nelayan, perahu kami akhirnya bisa melaju lagi menuju Pulau Manem.

Pulau Manem adalah sebuah pulau kecil yang terletak di sebelah barat daya Pulau Numfor. Pulau Manem tidak berpenghuni sehingga terumbu karang yang tumbuh di sekitarnya masih dalam kondisi baik.

Setelah perahu merapat ke pantai, tanpa menunggu lama, aku dan turis-turis Finlandia itu segera mengenakan peralatan snorkeling dan melompat ke dalam laut.

“Wuiih… indah sekali gugusan karang dan ikan-ikannya,” kataku dalam hati. Kalau aku mengatakan itu sambil bersuara nyaring, tentu saja air laut akan masuk ke mulutku. Selama snorkeling di Pulau Manem aku bisa melihat butterfly fish, anemone fish, striped surgeon fish, urchin dan sea star serta masih banyak lagi jenis mahluk laut yang tak bisa aku sebutkan satu per satu di dalam artikel ini. Pokoknya, dunia bawah laut di Pulau Manem luar biasa indahnya. Aku bahkan berkhayal menginap beberapa malam seorang diri di pulau ini. Sayang sekali, nelayan setempat tidak memperbolehkan hal tersebut dengan alasan bahwa pulau ini angker.

Empat jam kami berada di antara terumbu karang Pulau Manem. Deburan ombak dan kicauan burung adalah nyanyian alam yang terdengar merdu di telingaku. Suasana pulau tropis yang sepi menenangkan hatiku.

Padahal sependek pengetahuanku, sesuai dengan apa yang  pernah kubaca tentang sejarah Perang Pasifik, pada tahun 1944 Pulau Numfor dan Manem pernah menjadi daerah pertempuran yang dahsyat antara tentara sekutu dan pasukan Jepang. Buktinya memang masih ada. Sejumlah benda-benda peninggalan Perang Dunia ke-2 seperti senapan mesin, bom (yang telah dikeluarkan mesiunya, dan helm tentara di Pulau Numfor bisa dilihat di sebuah museum kecil milik Bpk. Simon Wanma (kepala suku).

Sore pun tiba dan kami segera kembali ke Pulau Numfor lagi. Kali ini ombak mendorong kami dari buritan sehingga perahu bisa tiba lebih cepat.

Selain menikmati snorkeling di Pulau Manem, kami melakukan pengamatan burung (birdwatching), dan menonton pertunjukan tarian tradisional di Pulau Numfor. Sejumlah species burung yang berhasil kulihat di sana adalah berbagai jenis kingfisher, parrot, fruit dove and fishtail drongo, serta dollar bird.

Seminggu lamanya aku dan para wisatawan Finlandia jalan-jalan di Pulau Numfor. Aku sungguh senang bisa berlibur di Pulau Numfor dan Manem. Sebenarnya aku ingin lebih lama lagi berada di sana. Namun itinerary yang telah kususun buat para wisatawan Finlandia itu masih panjang. Kami masih harus kembali ke Manokwari untuk melanjutkan petualangan hiking dan birdwatching di Pegunungan Arfak serta snorkeling di Arfai. oleh Charles Roring

Sumber : Detik Travel

Diving di Kepulauan Raja Ampat

Kepulauan Raja Ampat merupakan rangkaian empat gugusan pulau yang berdekatan dan berlokasi di barat bagian Kepala Burung (Vogelkoop), Pulau Papua. Secara administrasi, gugusan ini berada di bawah Kabupaten Raja Ampat, Provinsi Papua Barat. Kepulauan ini sekarang menjadi tujuan para penyelam yang tertarik akan keindahan pemandangan bawah lautnya. Empat gugusan pulau yang menjadi anggotanya dinamakan menurut empat pulau terbesarnya, yaitu Pulau Waigeo, Pulau Misool, Pulau Salawati, dan Pulau Batanta.

Perairan Kepulauan Raja Ampat merupakan salah satu dari 10 perairan terbaik untuk diving site di seluruh dunia. Bahkan, mungkin juga diakui sebagai nomor satu untuk kelengkapan flora dan fauna bawah air pada saat ini.Di kawasan ini setidaknya terdapat 1.300 spesies ikan, 600 jenis terumbu karang, serta 700 jenis karang. Selain itu, terdapat juga jenis kura-kura, ganggang, dan ubur-ubur. Anda dapat menikmati pesona bawah laut Kepulauan Raja Ampat ini di beberapa titik penyelaman dan di setiap titik penyelaman memiliki kekhasan masing-masing, miisalnya di sekitar Pulau Kri.

Di Pulau Kri, Anda dapat menyaksikan keindahan terumbu karang serta berbagai jenis ikan yang sangat menakjubkan, termasuk ikan quensland grouper yang terkenal. Seorang ahli perikanan dari Australia, Garry Allen, pernah membuktikan bahwa dalam sekali menyelam ia mencatat setidaknya terdapat 283 jenis ikan. Untuk menikmati semua Keindahan kepulauan Raja Ampat, Anda bisa menaiki kapal laut menuju Sorong selama 2,5 jam.

Sumber : Detik Travel

coral-raja-ampat2 Raja Ampat dikenal dengan wisata bahari terbaik ketiga di dunia. Raja Ampat kembali menggelar promosi wisata di Bali untuk menggaet wisatawan mancanegara dan nusantara berkunjung ke destinasi eksotik ini. Baca lebih lanjut

Papua – Satu kata yang terucap saat kami melihat pantai ini adalah Amazing! Sebuah pantai yang memiliki keindahan luar biasa dengan jenis pasir pantai berwarna putih, air yang sangat jernih, sepi, dan sangat bersih. sebuah Pantai yang wajib anda kunjungi jika anda memiliki kesempatan mengunjungi Biak – Papua. Tanjung Barito, merupakan identitas dari pantai yang luar biasa indah ini. Disini, kita tidak hanya dapat menikmati keindahan alamnya saja, tetapi juga dapat mencoba berburu ikan dengan cara memancing ataupun dengan menggunakan Kalawai (tombak).

Tanjung Barito
Sungguh menyenangkan! Warga lokal pun dengan senang hati mengajarkan kita bagaimana cara menggunakan tombak dalam berburu ikan. Suatu pengalaman yang baru pertama kali saya rasakan. Tetapi, memancing menggunakan tombak dapat dikatakan lumayan menguras tenaga. Oleh karena itu, setelah seharian lelah memancing, saya melanjutkan ritual yang tidak pernah saya tinggalkan jika berkunjung ke pantai, yaitu mandi atau berenang di pinggir pantai. Baca lebih lanjut

Papua – Layaknya cerita dari khayangan, Desa Anggaduber, Kecamatan Biak Timur menyimpan cerita unik di balik kulit indahnya. Berjalan santai di satu-satunya jalan beraspal di Desa Anggaduber sungguh menyenangkan. Di sebelah kiri, rumah-rumah penduduk berjejer rapi. Beberapa tak berpagar, khas masyarakat pantai yang terbuka dengan pendatang.

Desa Anggaduber

Di sebelah kanan, laut lepas membentang membatas cakrawala. Pulau-pulau karang kecil memagari pantai Desa Anggaduber dari ombak yang dibawa Samudra Pasifik. Pohon kelapa melambai seirama angin laut: tidak keras tapi cukup untuk menidurkan badan dalam ‘rumgun’ (rumah panggung khas Biak) setelah dua jam menyusur jalan sejauh tigapuluh lima kilometer utara Kota Biak. Baca lebih lanjut