Category: NTT


Sumba_pasolaSumba – Minggu pertama di bulan Maret, Pulau Sumba, NTT siap mengadakan Festival Pasola. Festival ini akan mempertunjukkan keahlian penduduk Sumba berperang sambil menunggang kuda!

Buat traveler petualang, ada satu event seru di Pulau Sumba, NTT yang rugi bila Anda lewatkan. Seperti dilihat dari situs resmi pariwisata Indonesia, Jumat (1/2/2013), tahun ini Festival Pasola akan berlangsung kembali pada 7 Maret 2013.

Dalam festival ini, traveler bisa melihat penduduk asli Sumba berperang dengan menunggang kuda dan membawa tombak. Ini bukanlah perang dalam arti sebenarnya, melainkan hanya sebuah tradisi. Tombak yang digunakan dalam festival ini tidaklah tajam.

Inilah tradisi yang menguji keberanian dan sportivitas penduduk asli setempat. Acara ini berakar dari rangkaian upacara tradisional yang dilakukan orang Sumba, khusunya Sumba Barat dan Sumba Barat Daya, penganut agama asli Marapu.

Pasola berasal dari kata ‘sola’ atau ‘hola’. Kata ini memiliki arti sejenis lembing kayu yang dipakai untuk saling melempar dari atas kuda. Ya, kuda yang digunakan dalam festival ini adalah kuda Sandelwood. Kuda khas Pulau Sumba ini, memiliki perawakan yang kokoh, gesit dan lincah.

Kuda-kuda dalam festival ini dipacu kencang oleh dua kelompok yang berlawanan. Masing-masing kelompok terdiri dari 50-100 orang. Setelah mendapat imbuhan ‘pa dan menjadi ‘pasola’ artinya pun menjadi permainan.

Festival Pasola tidak hanya sekadar ‘perang kuda’, tapi ada beberapa rangkaian acara yang harus dilakukan sebelum acara puncak. Acara dimulai dengan Pasola Homba Kalayo, Pasola Bondo Kawango, Pasola Rara Winyo, dan terakhir adalah Pasola Waingapu pada tanggal 7 Maret 2013.

Sebagai senjata, para peserta Pasola akan dibekali dengan tombak kayu dengan diameter sekitar 1,5 cm. Pastinya, ujung tombak ini pun tumpul jadi tidak akan melukai. Serunya traveler yang memiliki nyali juga bisa ikut dalam festival ini. Jika tidak berani pelancong bisa bergabung dengan penonton lainnya.

Jadi apalagi yang Anda tunggu, cobalah luangkan sedikit waktu dan menguji keberanian Anda bersama penduduk asli Sumba. Peperangan pun semakin seru ketika penduduk setempat mengeluarkan teriakan khasnya, “Kayaka.” Setelah berperang, traveler bisa menikmati menunggangi kuda Sandelwood di tengah padang savana yang luas, sambil memandangi laut lepas nan indah.

Tertarik dan ingin mencari informasi lebih tentang Festival Pasola? Traveler bisa mengunjungi laman resmi pariwisata Provinsi Nusa Tenggara Timur: http://www.goseentt.com

Sumber: Detik Travel

Iklan

Wisata Goa di NTT

Gua MonyetMengunjungi Pulau Timor di Nusa Tenggara Timur, kita akan menemukan beberapa buah Goa. Goa yang kami kunjungi kali ini adalah Goa Panaf Bibi atau Goa Jepang, Goa Kristal dan Goa Monyet.

Kunjungan pertama mengunjungi Goa Panaf Bibi atau Goa Jepang. Alasan Goa tersebut dinamakan Goa Panaf Bibi karena bentuk goa tersebut seperti hidung kambing. Dan juga dinamakan Goa Jepang, karena Goa ini dibuat Oleh Tentara Jepang pada masa perjuangan tahun 1942 untuk pertahanan dan pengintaian oleh tentara Jepang.

Goa yang terletak sekitar 40 KM arah Selatan kota Kupang ini terletak di Desa Tasikona. Ada yang menguntungkan apabila kita mengunjungi Goa ini, karena pada saat kita keluar dari pintu keluar Goa maka kita akan langsung menuju tebing yang tinggi dan melihat secara langsung pemandangan Pantai Oepaha yang indah. Pantai Oepaha ini berhadapan langsung dengan Lautan lepas Laut Timor. Goa Panaf bibi ini berukuran sekitar 7 x 4 meter dan didalamnya mempunyai ruangan tersendiri berukuran 2 X 3 meter.

Goa yang kedua kami kunjungi adalah Goa Kristal, Goa ini terletak di Desa Bolok sekitar 15 KM arah Selatan dari kota Kupang. Jalan menuju ke arah Goa Kristal ini akan ditemui batu-batu karang yang telah berwarna hitam yang berserakan dan beberapa pohon Kusambi. Batu-batu karang yang berserakan diluar dari Goa Kristal di percaya oleh masyarakat sekitar karena dulunya daerah tersebut adalah lautan dan kemudian surut dan menyisakan karang-karang tersebut. Hal ini diyakinkan saat kami masuk kedalam Goa dan mendapati air yang ada didalam Goa rasanya asin seperti air laut.

Goa ketiga yang kami kunjungi adalah Goa Monyet yang terletak di Desa Alak. Di Goa ini terdapat ratusan Monyet yang telah hidup bertahun-tahun dan berkembang biak. Monyet yang hidup bebas dialam terbuka ini sangat jinak dan sangat bersahabat dengan setiap pengunjung yang datang. Hal ini menjadikan kunjungan ke Goa Monyet ini menjadi menyenangkan. Lokasi Goa yang berhadapan tepat dengan laut lepas ini menjadikan suasana sore di Goa ini menyenangkan karena kita dapat menyaksikan sunset dengan lembayung senjanya. Jadi, bila anda berkunjung ke Nusa Tenggara Timur jangan lewatkan mengunjungi Goa-goa tersebut.

Sumber: detiktravel